Efek Fisik & Psikologis Menahan Amarah Serta Strategi Mengatasinya

Efek Fisik & Psikologis Menahan Amarah Serta Strategi Mengatasinya

  • August 19, 2021

Menahan amarah bisa menyebabkan beragam efek baik itu secara fisik maupun secara psikologis. Menahan amarah bukanlah salah satu hal baik untuk dilakukan. Anda yang pernah menahan amarah tentu tahu bagaimana menyelesaikannya itu.

Jika Anda tahu dan merasakan bagaimana tidak enaknya menahan amarah, maka Anda sebaiknya berhenti melakukan itu. Meski hal itu bukan berarti Anda harus marah dengan meledak-ledak atau secara brutal. 

Orang yang menahan amarah mengekspresikan kemarahannya dengan cara lain, seperti terlalu kritis dan sinis atau merasa tertekan dan menjadi korban. Menjadi marah menggunakan banyak energi emosional dan fisik. Akibatnya, internalisasi kemarahan dapat memiliki efek berbahaya, melemahkan kesehatan fisik dan mental dan mengorbankan hubungan pribadi dan profesional.

Agar Anda dipenuhi dengan pengetahuan yang cukup mengenai efek negatif menahan amarah, artikel ini dapat membantu Anda. Selain itu, artikel ini juga akan memberikan strategi untuk Anda mengatasi sikap itu. 

Apa itu menahan amarah dan mengapa terjadi?

Sebuah penelitian oleh University of Massachusetts menemukan hanya 10 persen orang yang marah “bertindak” dengan cara yang jelas-jelas agresif. Selebihnya ada banyak cara untuk orang meluapkan amarah mereka, salah satunya dengan menahan atau memendamnya. 

Kamus Macmillan mengatakan bahwa emosi yang terpendam adalah perasaan kuat yang tidak Anda ungkapkan dan secara bertahap menjadi lebih sulit untuk dikendalikan. Mungkin Anda dapat menahan semua emosi dan amarah Anda sekarang, namun jika itu semakin menumpuk hari lepas hari, selanjutnya yang akan terjadi adalah Anda mungkin akan meledak. Jika Anda terus menahan, memendam, atau menyembunyikan amarah Anda itu akan menimbulkan efek negatif pada diri Anda. 

Ada beberapa alasan mengapa seseorang menahan amarahnya, itu bisa meliputi, bahwa ia tumbuh di lingkungan yang penuh amarah, menganggap kemarahan sebagai suatu hal yang buruk atau tidak baik, atau bisa juga bahwa orang tersebut tidak tahu bagaimana merespon atau bertindak.

Apa efek fisik dari menahan amarah?

Kemarahan adalah salah satu dari banyak cara tubuh merespons stres. Stres dapat disebabkan oleh hampir semua hal, seperti tekanan pekerjaan, ketakutan akan kegagalan, rasa sakit kronis, ingatan akan peristiwa traumatis, atau masalah hubungan. 

Ketika seseorang marah, tubuh bereaksi dengan meningkatkan detak jantung dan tekanan darah serta melepaskan sejumlah hormon tertentu. Meskipun tubuh mampu menyesuaikan diri dengan tingkat stres “normal”, stres yang signifikan dan terakumulasi dapat menyebabkan penyakit dan akhirnya kematian.

Faktanya, para peneliti medis telah menghubungkan respons stres dari kemarahan dengan:

  • tekanan darah tinggi
  • peningkatan denyut jantung
  • otot tegang
  • serangan jantung
  • hernia hiatus
  • glaukoma
  • stroke
  • gatal-gatal
  • asma
  • borok
  • migrain
  • nyeri punggung bawah
  • psoriasis
  • harapan hidup diperpendek

Apa efek psikologis menahan amarah?

Menahan amarah berpengaruh pada kesehatan mental seseorang juga. Sebuah studi menghubungkan kemarahan dengan kesepian, kecemasan kronis, depresi, gangguan makan, gangguan tidur, perilaku obsesif-kompulsif, dan fobia. Efek berbahaya dari kemarahan dapat meluas ke kehidupan pribadi dan profesional seseorang, merusak kapasitas seseorang untuk pemenuhan emosional dan pencapaian pribadi dan profesional. Dengan kata lain, kemarahan dapat menahan Anda dan membuat Anda kecewa.

Kemarahan atau sikap memendam amarah juga menghambat perkembangan dan pemeliharaan hubungan intim, yang sering mengakibatkan ketidakstabilan di hubungan perkawinan Anda dan pekerjaan Anda. Orang yang marah sering kali meledakkan kesalahpahaman dan keluhan kecil di luar proporsi dan lebih cenderung untuk mengakhiri hubungan dengan orang lain, bahkan teman dekat, daripada berupaya untuk menyelesaikan masalah. Akibatnya, orang yang menahan marah sering mengasingkan diri dari orang lain—bahkan keluarga mereka sendiri.

Bagaimana strategi mengatasinya?

Strategi yang dapat Anda terapkan untuk mengatasi amarah atau sikap memendam amarah adalah dengan memiliki manajemen kemarahan positif. Bagaimana caranya? Berikut ini uraiannya.

  1. Meditasi. Meditasi dapat membantu Anda belajar bagaimana mengenali dan duduk dengan perasaan Anda tanpa menghakimi mereka. Marah adalah sebuah emosi umum yang bisa Anda rasakan. Cara ini dapat membantu Anda tetap tenang dan mengendalikan emosi Anda.
  2. Olahraga. Banyak penelitian menemukan bahwa latihan aerobik dapat membantu orang mengurangi perasaan marah. Kuncinya adalah Anda perlu meningkatkan detak jantung dan denyut nadi Anda. Sebelum memilih jenis olahraga yang akan Anda jalani, konsultasikan terlebih dahulu ke dokter Anda.
  3. Melakukan terapi. Berbicara dengan terapis dapat membantu Anda untuk mengurangi masalah pengendalian amarah langsung dengan ahlinya.
  4. Bergabung dengan grup manajemen kemarahan. Jangan malu atau sungkan untuk bergabung dalam kelompok ini. Anda mungkin dapat belajar dari orang lain yang mengalami situasi yang serupa dengan Anda.
  5. Latihan pernafasan. Strategi ini banyak direkomendasikan. Latihan pernafasan membantu Anda untuk lebih rileks dan mengalihkan perhatian Anda. 
  6. Gunakan seni kreatif. Strategi selanjutnya adalah dengan memanfaatkan seni kreatif untuk mengelola amarah. Psikolog, Bash menjelaskan bahwa musik, lukisan, menari, atau menulis dapat menjadi alat yang hebat untuk mengekspresikan emosi yang sulit atau intens.

Menahan amarah sesekali mungkin tidak terlalu masalah, namun jika itu sudah menumpuk besar kemungkinan ada efek berbahaya yang mengintai kesehatan fisik maupun mental Anda. Ekspresikanlah amarah dengan positif.

Anda bisa berkonsultasi mengenai manajemen menahan amarah dengan dokter melalui aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Unduh aplikasinya sekarang di App Store dan Play Store.