Bagaimana Pencegahan Pneumonia Melalui Vaksinasi?

Bagaimana Pencegahan Pneumonia Melalui Vaksinasi?

  • June 30, 2021

Pencegahan pneumonia menjadi salah satu hal penting di masa pandemi Covid-19 ini karena penyakit yang menyerang paru-paru tersebut sangat berhubungan dengan virus Corona. Apalagi diketahui penderita pneumonia sangat rentan terserang Covid-19.

Penyakit ini bisa menyerang siapa saja. Bahkan, anak umur 2 tahun sekalipun bisa mengidap salah satu penyakit yang dapat menyebabkan kematian ini.

Seperti halnya Covid-19 pneumonia disebabkan oleh virus, jamur, dan bakteri yang tersebar melalui kontak fisik, droplet atau bahkan benda-benda mati.

Untuk mencegah salah satu penyakit pernapasan ini Anda bisa melakukannya dengan vaksinasi. Vaksinasi untuk pneumonia. Lalu seperti apa vaksinasi untuk Pneumonia itu? Yuk, mari simak penjelasan di bawah!

Vaksin Pneumonia dan Jenisnya

Vaksin untuk pneumonia sendiri diketahui terdiri dari 2 jenis,  yaitu PCV13 dan PPSV23. PCV13 adalah vaksin yang digunakan untuk melawan 13 jenis bakteri penyebab pneumonia pada anak-anak dan orang dewasa.

PCV13 merupakan vaksinasi standar yang biasanya diberikan kepada bayi dan dilakukan oleh dokter anak.

Pada bayi, vaksin diberikan sebanyak 3-4 dosis saat mereka berusia 2 bulan, dan dosis terakhir diberikan kepada bayi saat usia 15 bulan.

Sedangkan pada orang dewasa berusia 65 tahun dan ke atas, PCV13 diberikan satu kali suntikan, dan vaksinator kemungkinan akan merekomendasikan vaksinasi ulang dalam rentang waktu 5 hingga 10 tahun.

Selain anak-anak dan orang tua, orang-orang dengan kekebalan tubuh yang lemah harus juga divaksinasi supaya tidak terkena dan menularkan penyakit.

PPSV23 adalah jenis vaksin Pneumonia lainnya yang disuntikkan untuk melindungi diri terhadap 23 jenis bakteri penyebab pneumokokus.

Vaksin diberikan sebanyak 1 dosis, dan hanya diperbolehkan untuk orang tua 65 tahun ke atas yang telah menerima vaksin PCV13. Penyuntikan dilakukan setelah satu tahun pemberian PCV13, dan mereka umumnya tidak memerlukan vaksinasi ulang di kemudian hari.

Selain orang tua 65 tahun ke atas, orang-orang yang gemar merokok atau memiliki faktor risiko yang bisa meningkatkan pneumonia juga perlu divaksinasi.

Efek Samping yang Perlu Diperhatikan

Ketika Anda memutuskan melakukan pencegahan pneumonia melalui vaksinasi tentunya Anda juga sudah harus tahu efek samping yang akan ditimbulkan.

Hal ini supaya Anda tidak terkejut, dan hampir semua jenis vaksinasi apa pun pasti memiliki efek samping sebagai tanda bahwa tubuh sedang mempelajari cairan antibodi yang sedang disuntikkan.

Efek samping vaksin Pneumonia adalah sebagai berikut:

  • Kemerahan atau bengkak di tempat suntikan
  • Nyeri otot
  • Demam
  • Panas Dingin

Untuk anak-anak disarankan jangan melakukan vaksinasi pneumonia dan flu secara bersamaan sebab dapat meningkatkan risiko mengalami kejang.

Selain itu, vaksin pneumonia tidak direkomendasikan untuk orang-orang dengan kriteria berikut:

  • orang yang alergi terhadap vaksin atau bahan apa pun di dalamnya
  • orang yang memiliki reaksi alergi terhadap PCV7, versi lama vaksin pneumonia
  • wanita yang sedang hamil
  • orang yang menderita pilek, flu, atau penyakit lain yang parah

Cara Lain Mencegah Pneumonia Selain Vaksinasi

Selain melakukan vaksinasi untuk mencegah dan mengurangi risiko pneumonia, Anda juga bisa melakukan hal-hal lain untuk pencegahan. Hal-hal ini tentunya mudah Anda lakukan. Berikut pencegahan tersebut:

Mencuci Tangan

Cucilah tangan sesering mungkin pada air yang mengalir dengan membersihkan muka juga hidung. 

Lakukan ini ketika akan bepergian, setelah dari kamar mandi, sebelum makan, dan kegiatan-kegiatan lainnya yang berpotensi menyebarkan virus dan bakteri penyebab pneumonia.

Jangan Merokok

Karena pneumonia berkaitan erat dengan alat sistem pernapasan terutama paru-paru, hendaknya Anda tidak merokok sama sekali.

Sebab, merokok merusak kemampuan paru-paru untuk melawan infeksi, dan kegiatan ini diketahui berisiko tinggi terkena pneumonia.

Karena itulah para perokok menjadi kelompok yang harus diprioritaskan untuk divaksin pneumokokus.

Selain itu pencegahan yang bisa Anda lakukan dengan mudah adalah:

  • Konsumsi makanan bergizi secara teratur
  • Olahraga teratur
  • Dan istirahat secukupnya agar imun tubuh bisa kembali kebal

Itulah pencegahan pneumonia yang bisa Anda lakukan melalui vaksinasi sehingga risiko terkena menjadi berkurang. Jangan lupa terapkan pola hidup sehat untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Cara Membersihkan Luka Operasi Caesar yang Bernanah di Rumah

  • June 26, 2021

Setelah ibu melahirkan dengan operasi caesar, dokter menyarankan agar ibu beristirahat hingga benar-benar pulih. Ibu juga harus merawat luka pasca operasi agar tidak infeksi. Tapi tak jarang hal tersebut dialami oleh sebagian ibu. 

Infeksi luka operasi caesar disebabkan oleh bakteri yang masuk ke dalam luka. Luka yang terinfeksi akan terlihat bengkak dan kemerahan, diikuti dengan rasa sakit pada jahitan. Infeksi yang parah bisa menyebabkan darah atau nanah 

Bekas luka di perut sang ibu termasuk salah satu efek samping operasi ceasar

Infeksi yang parah harus segera ditangani oleh dokter untuk diberikan penanganan yang tepat. Setelahnya Anda bisa menanyakan bagaimana cara membersihkan luka operasi caesar yang bernanah di rumah. 

Penyebab luka operasi caesar infeksi

Sekitar 15-20 persen infeksi pada luka operasi caesar disebabkan oleh bakteri staph (Staphylococcus aureus). Bakteri ini secara alami tinggal di kulit dan rambut manusia. Ketika bakteri masuk ke dalam luka bisa menyebabkan infeksi. 

Gejala infeksi luka akibat bakteri staph dimulai dalam waktu 28 jam setelah bakteri menginfeksi. Beberapa jenis infeksi pasca-operasi yang disebabkan oleh bakteri staph antara lain:

  • Impetigo: Infeksi kulit menular yang ditandai dengan kulit merah melepuh berisi cairan yang ketika pecah akan meninggalkan bekas luka seperti kulit berkerak. Impetigo terasa sangat gatal dan menyakitkan.
  • Abses: Abses atau luka perut berisikan kulit mati dan nanah yang terasa hangat dan menyakitkan. 
  • Selulitis: Infeksi pada kulit dan jaringan kulit yang ditandai dengan kulit kemerahan, serta terasa hangat dan menyakitkan saat disentuh. Gejalanya dapat menyebar dengan cepat. 
  • Erisipelas: Jenis selulitis yang melibatkan sistem getah bening. Ditandai dengan lesi merah, mengkilat, dan menonjol. 

Selain bakteri staph, beberapa jenis bakteri yang juga bisa menyebabkan infeksi meliputi:

  • Ureaplasma urealyticum
  • Staphylococcus epidermidis
  • Enterococcus faecalis
  • Escherichia coli
  • Proteus mirabilis

Kenali tanda-tandanya

Ibu yang menjalani operasi caesar harus mengawasi luka operasi dengan cermat. Jika tidak bisa terlihat dengan jelas, Anda bisa meminta bantuan orang lain untuk memeriksa luka setiap dua kali sehari. 

Segera temui dokter jika terdapat tanda-tanda luka terinfeksi, antara lain:

  • Kulit memerah dan pembengkakan di sepanjang tepi sayatan
  • Keluarnya nanah dari tempat sayatan
  • Nyeri tekan di sekitar tempat sayatan
  • Rasa sakit di tempat sayatan yang tak kunjung hilang atau semakin memburuk
  • Demam tinggi (38ºC)
  • Sakit saat buang air kecil
  • Keluarnya darah dari tempat sayatan
  • Keputihan berbau tidak sedap

Bagaimana mengobati luka pasca operasi caesar yang bernanah?

Jika luka operasi mengeluarkan nanah, dokter akan membuka sayatan di area yang terinfeksi, kemudian mengeluarkan nanah. Setelah area tersebut bersih dan dicuci dengan hati-hati, dokter akan mengoleskan antiseptik untuk mencegah penumpukan nanah. 

Setelah beberapa hari, Anda disarankan untuk melakukan pemeriksaan kembali untuk memastikan penyembuhan berjalan dengan tepat. Nantinya dokter akan memutuskan apakah luka bisa ditutup kembali atau dibiarkan sembuh dengan sendirinya. 

Selama masa perawatan di rumah, berikut cara membersihkan luka operasi caesar yang bernanah:

  1. Selalu bersihkan tangan sebelum dan sesudah membersihkan luka operasi.
  2. Bersihkan luka dengan cara mengusapnya pelan-pelan menggunakan kain atau handuk bersih yang lembut.
  3. Gunakan obat antibiotik secara rutin. Jangan sampai telat mengoleskannya ke luka jahitan. 
  4. Ganti pembalut luka secara teratur. 
  5. Hindari memakai pakaian ketat agar tidak menekan area yang terluka.
  6. Jangan mengoleskan sabun, body lotion, atau produk lainnya di atas luka.

Cegah sebelum terlambat

Tidak semua wanita yang mendapatkan operasi caesar akan mengalami infeksi. Sebelum operasi, dokter mungkin meminta Anda mandi dengan sabun antibakteri khusus dan tidak disarankan untuk bercukur. Sebelum memulai prosedur pun para petugas medis akan membersihkan dan mendesinfeksi area tersebut. 

Wanita yang memiliki masalah medis seperti diabetes, obesitas, dan sistem kekebalan tubuh yang lemah akan diminta untuk menjaga kesehatannya sejak jauh hari sebelum operasi caesar. 

Catatan

Cara membersihkan luka operasi caesar yang bernanah cukup mudah dilakukan. Anda juga akan segera membaik jika perawatan dilakukan secara rutin. Mintalah bantuan pasangan atau anggota keluarga lainnya jika Anda kesulitan dalam membersihkan luka operasi caesar.

Shampo untuk Rambut Rusak, Solusi Atasi Masalah Rambut

  • June 25, 2021

Produk shampo yang dijual di pasaran umumnya diformulasikan dengan kandungan yang berbeda-beda. Sebaiknya, bila ingin mengatasi kerusakan rambut, gunakan shampo untuk rambut rusak yang menggunakan kandungan khusus.

Memilih shampo untuk mengatasi kerusakan rambut akan membantu memulihkan kondisi rambut Anda menjadi lebih sehat. Selain itu, shampo jenis ini juga bisa menjadi upaya mencegah kerusakan rambut yang lebih parah.

Nutrisi alami pada shampo untuk rambut rusak

Ketika mencari shampo untuk mengatasi kerusakan rambut, ada baiknya Anda mencari tahu lebih dulu macam-macam nutrisi yang rambut Anda butuhkan. Dengan begitu, Anda bisa menyesuaikan nutrisi yang Anda targetkan dengan shampo yang dipilih.

Ada beberapa nutrisi dan bahan alami yang sebaiknya ada pada shampo untuk rambut rusak, seperti: 

  • Lidah buaya

Lidah buaya sudah sejak lama menjadi bahan alami yang populer digunakan sebagai bahan dalam shampo. Kandungan lidah buaya memang bisa mengatasi kerusakan pada rambut, khususnya rambut yang kering. 

Selain digunakan ke dalam produk perawatan rambut, lidah buaya juga bisa digunakan secara langsung. Caranya dengan mengeluarkan gel dari dalam daun lidah buaya, kemudian dioleskan ke permukaan rambut.

Anda bisa memilih shampo yang mengandung kandungan lidah buaya apabila ingin mengatasi kerusakan pada rambut Anda. 

  • Vitamin B

Rambut Anda memerlukan vitamin B agar kesehatannya tetap terjaga. Secara khusus, vitamin B yang diperlukan adalah vitamin B6 dan vitamin B12.

Kedua vitamin ini bekerja secara bersamaan untuk menstimulasi pertumbuhan rambut yang sehat melalui folikel rambut. Selain itu, vitamin ini juga mampu mencegah kerontokan rambut. 

Meski vitamin B6 dan B12 diprioritaskan sebagai vitamin B yang penting bagi rambut, Anda juga tetap memerlukan kandungan vitamin B kompleks lainnya. 

  • Minyak zaitun

Hampir serupa seperti lidah buaya, minyak zaitun juga menjadi bahan alami yang cukup populer digunakan ke dalam produk shampo untuk rambut rusak. Minyak zaitun dianggap efektif untuk merawat rambut tetap sehat.

Minyak zaitun bekerja dengan memberikan hidrasi pada rambut, sehingga rambut tidak mudah kering. Rambut yang kering mudah mengalami kerusakan.

Selain itu, penggunaan produk berbahan minyak zaitun juga bisa membantu memberikan kelembutan pada rambut. Rambut Anda pasti akan menjadi lebih halus.

  • Biotin

Biotin adalah kandungan alami yang banyak ditemukan pada organ hati. Kandungan biotin juga banyak digunakan pada produk shampo untuk rambut rusak.

Biotin merupakan sumber vitamin B yang bekerja dengan merangsang sel-sel baru, guna menumbuhkan kembali rambut yang sudah rontok. 

Selain dari organ hati, biotin pada produk shampo juga bisa didapatkan dari makanan sejenis biji-bijian, kacang-kacangan, telur, dan lobak Swiss.

  • Minyak kelapa

Selain minyak zaitun, kandungan minyak alami lainnya yang bisa dipakai untuk merawat rambut adalah minyak kelapa. Minyak kelapa dapat mengurangi kehilangan protein, sehingga bisa mengatasi rambut yang rusak.

Minyak kelapa memiliki berat molekul yang lebih rendah. Artinya, minyak ini lebih mudah masuk ke dalam batang rambut. 

Menggunakan shampo yang mengandung minyak kelapa akan membantu Anda untuk meningkatkan kelembaban serta kelembutan rambut. Ini akan membuat rambut Anda jadi tampak lebih sehat secara keseluruhan.

Anda perlu lebih memperhatikan macam-macam komposisi dalam shampo yang akan Anda gunakan. Pastikan Anda memilih shampo untuk rambut rusak yang sesuai dengan kebutuhan rambut Anda.

Manfaat Imunisasi Pemberian Vaksin Hepatitis B pada Bayi

Manfaat Imunisasi Pemberian Vaksin Hepatitis B pada Bayi

  • June 23, 2021

Bayi yang baru saja lahir mendapatkan perlindungan terhadap penyakit lewat ASI. ASI mengandung antibodi, namun hanya bersifat sementara. Jika bayi sudah tidak minum ASI, maka memerlukan perlindungan baru, salah satunya dengan imunisasi. Imunisasi adalah suatu cara yang digunakan untuk menciptakan kekebalan atau perlindungan dari beberapa penyakit. Imunisasi bisa dilakukan dengan pemberian vaksin, yang bertugas untuk merangsang sistem kekebalan tubuh yang nantinya akan bereaksi seolah-olah ada infeksi secara nyata. Salah satu vaksin yang diberikan kepada bayi adalah vaksin hepatitis B atau HepB.

Imunisasi Vaksin Hepatitis B

Infeksi hepatitis B adalah kondisi yang berpotensi serius. Menurut kebijakan dari American Academy of Pediatrics (AAP) yang baru, bayi yang baru lahir kini harus imunisasi dengan diberikan vaksin hepatitis B pertama di hari pertama kehidupan mereka. AAP merekomendasikan bayi menerima dosis pertama vaksin hepatitis B dalam 24 jam pertama kehidupan mereka. Salah satu alasannya adalah karena ibu yang melahirkan dapat menularkan infeksi ke bayinya, yang dikenal sebagai infeksi perinatal.

Jika bayi baru lahir terkena hepatitis B, ada kemungkinan besar bahwa infeksi ini akan menjadi penyakit yang kronis, dan dapat bertahan untuk waktu yang lama. Jika tidak mendapatkan pengobatan, ada kemungkinan bayi akan meninggal akibat komplikasi infeksi.

Manfaat Vaksin Hepatitis B

Manfaat utama dari imunisasi pemberian vaksin adalah efektivitasnya. AAP mencatat bahwa jika dokter memberikan dosis pertama vaksin hepatitis B dalam waktu 24 jam setelah bayi lahir, maka efektivitasnya mencapai 75 hingga 95 persen dalam mencegah penularan infeksi hepatitis B dari ibu kandung ke bayi. Jika bayi baru lahir juga menerima obat hepatitis B immune globulin (HBIG) pada waktu yang tepat dan mendapatkan serangkaian vaksin lanjutan, AAP memperkirakan bahwa tingkat infeksi bisa turun menjadi antara 0,7 dan 1,1 persen. Untuk perlindungan terbaik, bayi juga perlu melengkapi rangkaian lengkap vaksin yang diperlukan.

Keamanan Vaksin Hepatitis B

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menyatakan bahwa vaksin hepatitis B atau HepB sangat aman. Rangkaian lengkap vaksin juga dapat memberikan tingkat perlindungan tertinggi dari infeksi.

Kemungkinan Efek Samping Vaksin Hepatitis B

Seperti halnya obat apa pun, vaksin hepatitis B membawa risiko efek samping. Efek samping ini biasanya sangat ringan, seperti sedikit demam atau mengalami nyeri di area suntikan selama beberapa hari.

Menurut CDC, vaksin hepatitis B tidak dapat menyebabkan hepatitis B. Meskipun produsen menggunakan bagian dari virus hepatitis B untuk membuat vaksin, tetapi virus ini tidak aktif. Vaksin tersebut hanya berfungsi untuk melatih tubuh melawan sel-sel spesifik virus.

Risiko Bayi yang Tidak Mendapatkan Vaksin

Risiko utama bayi tidak ikut imunisasi mendapatkan vaksin adalah bahwa bayi-bayi tersebut dapat tertular virus hepatitis B. Hepatitis B dapat menyerang hati, dan menyebabkan peradangan yang dapat merusak organ hati dari waktu ke waktu. Infeksi akut berlangsung kurang dari 6 bulan, dan mungkin tidak menimbulkan gejala pada beberapa orang.

Gejala yang lain termasuk:

  • kehilangan selera makan
  • nyeri pada otot
  • nyeri pada persendian
  • kelelahan 

Banyak infeksi akut yang dapat sembuh meski tanpa pengobatan. Jika infeksi berlanjut selama 6 bulan atau lebih, dokter akan menyebutnya sebagai kronis. Infeksi kronis meningkatkan risiko kerusakan hati seseorang dari waktu ke waktu.

Jika terjadi gangguan hati, maka dapat menyebabkan luka yang sering disebut sebagai sirosis. Kerusakan jangka panjang sirosis hati dapat mengakibatkan komplikasi lain, termasuk kanker hati .

Para ahli menganggap vaksin hepatitis B aman dan efektif. Imunisasi dengan memberikan vaksin hepatitis B merupakan hal yang aman dan efektif untuk mencegah infeksi. Idealnya, orang harus mendapatkan vaksin semuda mungkin agar terhindar dari infeksi seperti hepatitis B. Tidak ada obat untuk mengatasi hepatitis B. Bahkan orang yang sembuh dari hepatitis B kemungkinan masih memiliki risiko komplikasi kesehatan yang lebih tinggi di kemudian hari. Oleh karena itu, vaksinasi adalah cara terbaik untuk mencegah hepatitis B.